ABG Otak Begal di Kawasan Bandara Kerja Sama dengan Residivis, Tersebut Perannya

ABG Otak Begal di Kawasan Bandara Kerja Sama dengan Residivis, Tersebut Perannya

July 27, 2020 By Jeffrey Powell

Tangerang

Polisi berhasil meringkuk komplotan begal yang jalan di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Dari 4 pelaku yang ditangkap, 3 di antaranya residivis.

Kasat Reskrim Bandara Soetta Kompol Alexander Yuriko mengatakan komplotan itu dipimpin oleh AS bocah habis sekolah yang masih berusia 14 tahun. Selain menginisiasi aksi penyamun itu, AS juga disebut berlaku sebagai eksekutor.

“AS berperan sebagai orang yang menganjurkan para tersangka lainnya untuk melakukan aksi pencurian dengan kekerasan. Dia melakukan pengancaman terhadap korban menggunakan celurit yang dibawa dari rumah, ” kata Kompol Yuriko di keterangannya kepada wartawan, Senin (27/7/2020).

Yuriko juga mengatakan GANDAR juga orang yang menjual mesin hasil begal tersebut kepada penadah inisial R yang hingga saat ini masih berstatus DPO. Kepada penadah tersebut, AS menjual motor buatan begal itu seharga Rp 1 juta.

Pelaku kedua insial AS alias B (19) disebut polisi berperan untuk membonceng tersangka AS (14). Pelaku kedua ini yang berperan menghadang ulama korban dengan sepeda motornya.

Pelaku ketiga R alias B (20), juga memiliki karakter besar dalam aksi tersebut. Karakter tersebut disebut menodongkan parang kepada korban.

“Dia menahan laju korban dari sebelah kiri dengan mengeluarkan senjata tajam berbentuk parang yang sudah disiapkan, ” ujarnya.

Sedangkan bagi tersangka D (20) serta besar DPO lainnya yaitu J & B masing-masing berperan sebagai pengendara motor.

Kapolres Bandara Soetta Kombes Adi Ferdian Saputra mengatakan dari 6 pelaku tersebut, tiga pelaku di antaranya berkedudukan residivis yakni B, R dan D..

“Tiga karakter di antara pelaku ada yang residivis. Pernah melakukan hal dengan serupa, ” ucap Adi.

Adi menjelaskan, usai simpulan AS menjual motor curiannya seharga Rp 1 juta, masing-masing karakter tersebut ada yang mendapatkan Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Hasil penyelidikan polisi, kekayaan hasil begal itu digunakan para pelaku untuk membeli pil eximer dan pil tramadol.

“Kemudian kita dalami hampir seluruh pelaku ini gunain uang itu bagi beli narkoba, obat keras macam eximer dan tramadol. Itu (obat-obatan) mereka gunakan setelah melakukan kesibukan pidana ya, ” terang Teradat.

(mea/mea)