Bukti dari Ponsel Gisel Sudah Dihapus, Kok Bisa Muncul Lagi?

Bukti dari Ponsel Gisel Sudah Dihapus, Kok Bisa Muncul Lagi?

December 7, 2020 By Jeffrey Powell

Jakarta

Hotman Paris menyebut Gisel pernah menghapus data di ponsel sebelum ponsel tersebut diberikan ke manajernya. Tapi, data tersebut ternyata bisa muncul kembali. Ah, zaman sih?

Ketika ditanyakan ke Alfons Tanujaya, pengamat ketenteraman siber, ternyata hal ini memang bisa terjadi. Menurutnya, data yang sudah dihapus itu memang bisa muncul kembali, atau lebih tepatnya bukan muncul lagi, namun sungguh sebenarnya data tersebut belum benar-benar terhapus.

“Sebenarnya bukan muncul lagi tetapi ini adalah teknis penghapusan data di unit digital, ” ujar Alfons kala dihubungi detikINET .

Yang dimaksud oleh Alfons adalah, sebenarnya saat kita menghapus data dengan mengklik ‘delete’ pada ponsel, yang dihapus itu cuma logika keberadaan data. Selama tempat penyimpanan data masih tersisa, maka sebenarnya data yang sudah dihapus itu masih tersimpan di pada ponsel.

“Maksudnya kalau sisa memory card/harddisk masih banyak, maka sebenarnya data yang dihapus secara fisik masih ada dalam memory card/harddisk tersebut, ” tambahnya.

Data yang memang masih tersimpan itu, bisa ditampilkan kembali dengan program recovery. Ngerinya, jika tempat penyimpanan yang tersisa masih banyak, tingkat keberhasilan kalender seperti ini sangat besar.

“Kalau sisa memory cardnya masih banyak tingkat keberhasilan benar tinggi. Bisa > 90 %, ” ujar peneliti keamanan daripada Vaksincom ini.

Menurutnya, hal ini juga bisa terjadi pada penyimpanan data di ponsel, karena prinsip penyimpanan data dengan dipakai sama saja. Dan mengabulkan reset factory setting atau erase all data, seperti yang tersedia di kebanyakan ponsel itu selalu tidak aman.

“Harusnya cara kerja penyimpanan sama saja (antara kartu memori dan penyimpanan di ponsel), ” pungkasnya.

Namun menurut Alfons, buat perangkat iOS dan Android cetakan 2015 ke atas, memang telah tersedia fitur untuk mengenkripsi keterangan yang ada dalam ponsel. Tetapi itu pun ada syaratnya agar data tersebut tetap tak mampu diakses oleh orang tak bertanggung jawab.

Jadi masa ponsel tersebut diakses secara gelap, atau tanpa menggunakan PIN/sidik jari pengguna, data yang disimpan tersebut akan terenkripsi. Namun jika ponselnya diakses secara normal dengan menggunakan PIN dan sejenisnya, data tersebut bisa diakses. Dan kunci dekripsi untuk membuka data tersebut bakal ikut dihapus saat ponsel sudah di-reset.

“Jadi kalau sudah factory reset harusnya telah aman karena kunci dekripsinya menimbrung dihapus, ” ujar Alfons.

Namun, untuk kasus Gisel, menurut Alfons ada dua peluang atau skenario. Yang pertama ialah PIN ponselnya diketahui oleh penyambut, atau ponselnya memang keluaran 2014 ke bawah di mana datanya belum dienkripsi.

“Kalau dalam kasus Gisel kemungkinan EMBLEM nya diketahui oleh penerima telepon. Atau ponselnya versi 2014 ke bawah dimana data-datanya belum di enkripsi, ” tutup Alfons.

Untuk itulah, menurut Alfons, pengguna perlu melakukan langkah bunga untuk memastikan data-data yang sudah pernah dihapus dari ponsel atau tempat penyimpanan data lainnya tidak bisa dimunculkan kembali.

Seperti apa langkah-langkah mengamankan masukan yang tersimpan? Tunggu berita kemudian, ya, detikers.

Simak Video ” Polisi Periksa Saksi Ahli Bahasa serta ITE Terkait Video Mirip Gisel
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)