Pengeratan Sapi 'Tak Manusiawi' Jadi Pancaran Australia, Ini Kata MUI

Pengeratan Sapi ‘Tak Manusiawi’ Jadi Pancaran Australia, Ini Kata MUI

August 12, 2020 By Jeffrey Powell

Jakarta

Proses pemotongan hewan persembahan di Aceh disorot LSM Animals Australia karena dinilai ‘tak manusiawi’. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan Islam sangat menekankan ihsan kepada hewan.

“Islam betul menekankan soal ihsan terhadap hewan, termasuk ketika menyembelih. Konsep ihsan dalam fikih Islam sebagai manifestasi dari komitmen kesejahteraan hewan, atau animal welfare, ” ujar Penulis Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).

“Dalam hadis nabi dijelaskan, apabila kamu hendak menyembelih hewan, maka berbuatlah ihsan dalam cara penyembelihan, ” sambung Asrorun.

Namun, Asrorun mengatakan berbuat molek pada hewan sering kali berdasar pada kondisi subjektif. Beberapa tamsil, adanya orang yang menolak konsumsi daging hewan hingga terkait pemotongan tanpa stunning (pemingsanan).

“Hanya saja, pemaknaan soal mengamalkan baik teradap hewan ini kala kali didasarkan pada kondisi subyektif, dan bisa jadi bias budaya. Ada yang melarang dan menegasikan konsumsi hewan, sebagai wujud janji belas kasih pada hewan, hanya mengonsumsi tumbuhan. Ada yang menilai bahwa penyembelihan tanpa stunning (pemingsanan) itu penyiksaan, Stunning sebagai bentuk animal welfare, itu penilaian yang bersifat subyektif. ” tuturnya.

Salah satu protes yang dilayangkan LSM di Australia, yaitu bahwa hewan yang disembelih harus dibius terlebih dulu. Asrorun menuturkan, berdasarkan fatwa MUI penyembelihan semaksimal mungkin dilakukan secara manual tanpa stunning.

“Dalam ketentuan fatwa MUI, penyembelihan sedapat kira-kira dilaksanakan dengan pisau yang intelek, tanpa dilakukan stunning, ” tuturnya.

Dia menyebut, Stunning untuk mempermudah penyembelihan hewan diperbolehkan. Namun, dengan beberapa syarat, diantaranya hanya membuat hewan pingsan had untuk bertujuan mempermudah penyembelihan.

“Stunning untuk mempermudah proses penyembelihan hewan hukumnya boleh, dengan syarat, satu stunning hanya menjadikan hewan pingsan sementara,
tidak menyebabkan kematian serta tidak menyebabkan
cedera permanen. Dua bertujuan untuk mempermudah penyembelihan. Tiga pelaksanaannya sebagai bentuk ihsan, bukan untuk menyiksa hewan, ” pungkasnya.

Sebelumnya, LSM Animals Australia melayangkan surat protes kepada Departemen Pertanian, Air dan Lingkungan Australia (DAWE), Jumat (7/8). Mereka disebut menyertakan rekaman video adannya pemotongan hewan dengan cara-cara yang tidak manusiawi yang dilakukan di rumah pemotongan yang telah memiliki lisensi yang berada pada Aceh.

“Ternak Australia di Indonesia masih dipotong memakai model Mark I yang sudah dilarang, penggunaan tali dalam pemotongan hewan menjadi keprihatinan bagi kita semua di industri peternakan, ” kata CEO Animals Australia Glenys Oogjes dalam pernyataannya kepada LETER.

(dwia/zak)