Sindiran Parpol Terangkai Kala Anies Membaca 'How Democracies Die'

Sindiran Parpol Terangkai Kala Anies Membaca ‘How Democracies Die’

November 23, 2020 By Jeffrey Powell

Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengunggah foto dirinya sedang membaca buku berjudul ‘How Democracies Die’ di akun media sosialnya. Unggahan Anies disorot sejumlah kalangan.

Awalnya pada Minggu (22/11) pagi, Anies mengunggah foto dia memakai baju koko berwarna putih dan sarung berwarna coklat. Anies membaca buku berjudul ‘How Democracies Die’ sambil duduk menyilangkan kakinya, ia duduk di depan rak buku yang menjadi latar belakangnya.

Postingan tersebut diunggah pada Minggu (22/11) pagi & telah mendapat respon disukai 44. 454 orang per pukul 10. 52 WIB. Serta mendapat dua ribu lebih komentar dari netizen.

Buku ‘How Democracies Die’ merupakan karya penulis profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku tersebut membahas beberapa atasan di dunia yang terpilih melalaikan Pilpres tetapi lekat dengan sebutan ‘diktator’.

Dalam bukunya, mereka mencatat bahwa kemunculan kira-kira pemimpin diktator justru merupakan buatan dari pemilu. Demokrasi mati tidak karena pemimpin diktator yang meraih kekuasaan lewat kudeta, melainkan malah yang menang melalui proses pemilu.

Sejumlah kalangan pula ikut angkat suara. Ada dengan menyindir pedas dan ada pula yang menduga Anies memposting memotret itu karena tengah introspeksi muncul.

Golkar: Terjemahkan, Bukan Sekadar Wacana

Partai Golkar meminta Anies bisa menerjemahkan buku yang dibacanya menjadi kerja nyata.

“Bagus saja seorang gubernur tekun membaca buku, termasuk buku ‘How Democracies Die’. Yang penting membangun, setiap orang harus memiliki komitmen yang kuat agar tetap menjaga dan menegakkan demokrasi dalam kehidupan politik kenegaraan kita, ” kata Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

“Membaca sendi, bukan hanya untuk dibaca, namun juga diterjemahkan ke dalam kerja-kerja konkret dan bukan sekadar dialog, ” imbuhnya.

Ace kemudian menceritakan sekilas isi buku tersebut. Dia mengatakan semua bagian berkomitmen memegang teguh demokrasi.

Menurut Ace, demokrasi tidak hanya terkait sebuah institusi. Tetapi, kata dia, juga menyangkut poin di dalamnya, yakni soal penerimaan dan perbedaan.

Bertambah lanjut, menurut Ace, demokrasi jauh dari nilai-nilai politisasi golongan serta agama tertentu. Dia juga menyenggol soal pelanggaran aturan yang telah disepakati.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta Basri Baco menilai Anies tengah mencari perhatian. “Kan biasa Pak Gubernur begitu, lagi cari perhatian atau lagi mengalihkan perhatian juga mungkin, ” perkataan Basri.

Basri menodong Anies lebih fokus mengurus rakyat Jakarta. Terlebih, menurutnya, banyak komitmen kampanye Anies yang belum terpenuhi.

PD Bandingkan Demokrasi di Era SBY

Partai Demokrat (PD) menyinggung soal kondisi demokrasi masa ini yang dinilai tidak sehat.

“Pastinya harus bertanya kepada Mas Anies Baswedan. Tetapi, jika melihat kondisi, demokrasi masa ini memang sedang tidak sehat, ” kata Kepala BPOKK Kelompok Demokrat Herman Khaeron kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

Herman membandingkan kondisi demokrasi saat itu dengan era Presiden Susilo Jelas Yudhoyono (SBY). Herman menilai demokrasi era SBY berkembang dengan baik.

Herman kemudian menyoroti kondisi demokrasi saat ini. Tempat menganggap kondisi saat ini terkesan hilangnya nilai reformasi.

“Ada banyak aktivis yang berat diperkarakan dan dinyatakan bersalah, seakan-akan nilai-nilai reformasi telah hilang, ” imbuhnya.